Everyone is welcome to publish article/opinion related to Malingsia issues on this blog. Send your article/opinion to dinner.devil@gmail.com with subject Truly Malaysia Hater!.

Wednesday, July 8, 2009

KEJAYAAN TEKNOLOGI BANGSA INDONESIA

Pembaca Indonesia yang budiman,
Pembaca Malingsial yang bajingan,
Pembaca seluruh dunia (kecuali Malingsial) yang saya hormati,

Setelah mencapai kemerdekaan pada tahun 1945 dengan susah payah, setelah menahan gempuran aksi polisionil Belanda 2 kali tahun 1947 dan 1949, setelah bertempur habis-habisan melawan Inggris di Surabaya, Jakarta, Karawang-Bekasi, setelah melibas pasukan Belanda di Papua tercinta, setelah menghempaskan balatentara Portugal di Timor Timur 1975, setelah berkonfrontasi dengan Malingsial tahun 1965-an, akhirnya Indonesia kembali membangun negerinya.
Banyak prestasi yang telah dicapai negeri ini. Negeri ini memilik visi jauh kedepan, melampaui beberapa negara di dunia, termasuk Malingsial.
Walau Malingsial selalu membanggakan diri sebagai negeri termakmur di Asia Tenggara, yang katanya sama dengan Singapura, tetapi mereka bergantung secara teknologi sepenuhnya kepada pihak asing.
Indonesia, sebaliknya, sejak lama mengandalkan industri dalam negeri, dan mendukungnya agar dapat menjadi negara mandiri. Hasilnya, mungkin tidak kita nikmati sekarang, mungkin beberapa belas atau puluhan tahun lagi, ketika putra putri Indonesia telah diamanatkan berhasil menguasai pengetahuan dan ilmu-ilmu dasar lainnya.
Sudah saatnya, kita menyemai lebih banyak lagi periset-periset ilmu dasar untuk kejayaan bangsa.
Baiklah berikut hal-hal yang telah berhasil dicapai bangsa Indonesia, sejak kemerdekaan tahun 1945.

GALERI PRODUK TEKNOLOGI HASIL PUTRA BANGSA DAN PAGELARAN PANJI-PANJI NASIONAL INDONESIA.

PT INKA INDONESIA (Produsen Kereta Api dan Produk turunannya)
Diesel Electric Car



Diesel Rail Car



Economy Class



Speedy Anggrek



Oil Wagon Tank


Pulp Wagon



Warning Device



Itulah diantara produksi dalam negeri bangsa Indonesia tercinta. Lebih lanjut bisa dilihat di website-nya PT Inka Madiun.

PT PAL INDONESIA (Produsen Kapal Laut dan turunannya)
Cargo Vessel





Container Ship





Tanker



Kapal-kapal militer dan patroli cepat







Dan masih banyak lagi,..bisa ditelusuri di website PT PAL Indonesia.

PT Pindad (Produsen Kendaraan Tempur dan Alat-alat Militer)

Dengan kekuatan industri militer dalam negeri, mari kita jadikan modal dasar untuk menginvasi Malingsial jika sudah kelewat batas.

Assault Rifle



Forest Gun



Mortir Gabungan



Tripod Gun



Pistol P-2



SM-3



Granat dan Bomb





Dump Truck (Sipil)



Berbagai Jenis Kendaraan Tempur







Produk lainnya bisa didapat di situs PT PINDAD.


PT DIRGANTARA INDONESIA (Produsen Kapal Terbang dan Heli Sipil dan Militer)

Berbagai Jenis Pesawat










Indonesia pun punya mobil Nasional buatan dan rancangan dalam negeri yaitu ESEMKA yang rencananya akan diproduksi massal beberapa bulan lagi



Mobil Mikro? bukan cuma TATA India saja yang bisa, Indonesia juga akan meluncurkan GEA mobil mikro dan murah dari Indonesia seharga 25 juta rupiah (bukan RINGGIT loh, gak laku).



Masih banyak lagi produksi dalam negeri yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Tetapi sebagai perbandingan teknologi dengan Malingsial, bisa dilihat truk sampah Malingsial,

(SILA KONTROL GELAK ANDA)



Mobil sampah Malingsial kelebihan beban berat akibat sampah menggunung, produksi ASLI BANGSA MALINGSIAL.

Oke sekian dulu, tunggu edisi berikutnya: KEJAYAAN INDONESIA DI RUANG ANGKASA DAN UDARA

Tuesday, July 7, 2009

KEMISKINAN, RUSUH DAN SAMPAH DI MALINGSIAL

Malingsial, sebuah negeri sombong dan arogan di utara Indonesia raya tercinta, ternyata menyimpan banyak kebusukan dan kemunafikan.
Selama ini orang--orang Malingsial berkoar-koar mengatakan bahwa mereka adalah negara makmur dan kaya dan setaraf dengan negara maju. Indikasinya, menurut mereka, banyak pekerja asing utamanya dari Indonesia yang cari makan disana.
Sebetulnya, pekerja asing dari Indonesia itu hanya DIDATANGKAN karena ada PERMINTAAN dari orang Malingsial sendiri yang terkenal malas dan tidak kreatif, karena maunya hanya ingin bekerja dibalik meja saja, seperti bos-bos gendut dalam sinetron-sinetron picisan dan murahan dari Indonesia yang ternyata digemari di Malingsial.
TKI sendiri merupakan orang-orang kampung dari Indonesia dari berbagai pelosok tanah air yang lugu, dan tidak tahu apa-apa, direkrut oleh agensi dalam negeri atas bayaran agensi di Malingsial.
TKI banyak terjebak dalam situasi tidak menguntungkan dan terpaksa berangkat dan bekerja di sana setelah mereka tanpa tahu apa-apa menandatangani kontrak di Indonesia, dan setelah sampai disana, paspor dipegang oleh pihak yang memberinya pekerjaan.
AH sudahlah sekarang Hentikan Saja Pengiriman TKI LEGAL DAN ILEGAL ke negara Malingsial saja. Karena negara itu arogan merasa diri sebagai majikan Indonesia dan kita harus membungkuk-bungkuk kepada mereka untuk berterimakasih. NO WAY...mereka yang harus berterimakasih pada kita karena telah menggunakan TKI kita dan memiliki usaha di Indonesia, kalau Indonesia marah, pasti orang Malingsial rugi, karena usaha mereka di sini dibangkrutkan dan dilikuidasi.
Malingsial sebagai anak cucu cicit dari kerajaan Sriwijaya dan Majapahit kini menghina nenek moyangnya sendiri.
Tetapi mari kita lihat tayangan berikut ini pasti bakal terungkap apa yang ada dibalik wajah arogan dan sok kaya dari Malingsial...

ORANG MALINGSIAL KALAU BIKIN RASUAH PASTI SAMPAI TENGAH MALAM (POLIS DIRAJA TIDAK SANGGUP MEMBUBARKAN DEMONSTRAN SAMPAI SIANG ATAU PETANG). KERUSUHAN DI BATU CAVE.


POLIS DIRAJA TAKUT SAMA ANAK KECIL, DAN CUMA DITONTON SAJA.


DEMONSTRANNYA MENGENASKAN, TIDAK PUNYA MODAL BUAT BELUM SENDAL JEPIT SEKALIPUN APATAH KASUT (SEPATU)


MEREKA UTAMANYA MENENTANG KENAIKAN HARGA MINYAK. MALINGSIAL SANGAT BERGANTUNG PADA MINYAK, SEMENTARA INDONESIA SUDAH PAKAI LPG DAN LNG. MINYAK SUDAH TIDAK DIUTAMAKAN LAGI, KARENA ITU INDONESIA KELUAR DARI ORGANISASI OPEC. HIDUP ORANG MALINGSIAL YANG SUDAH PAHIT DAN NELONGSO AKHIRNYA DIWUJUDKAN DALAM BENTUK KARTUN PARODI SAJA.


JUMLAH PENGEMISPUN SEMAKIN BANYAK, ADA DI KL, PENANG DAN SARAWAK. POKONYA TERSEBAR MERATA TAK TERKENDALI.








MEREKA BERASAL DARI KAWASAN KUMUH ATAU SLUM AREA, YANG SELAMA INI DISEMBUNYIKAN OLEH KERAJAAN DARI PENGLIHATAN MEDIA. KALAUPUN ADA DIBERI ARAHAN TERLEBIH DAHULU AGAR KEMISKINAN MALINGSIAL TIDAK DIPUBLIKASIKAN DALAM BERITA-BERITA AKHBAR NASIONAL.








KEHIDUPAN KAUM MISKIN MALINGSIAL SANGAT PRIMITIF, BUANG TINJA MASIH DI SUNGAI ATAU KALI.



SAMPAH BERTEBARAN DIMANA-MANA, MALINGSIAL TAK BERPENDIDIKAN, TIDAK TAHU HARUS BUANG KEMANA, JADI BUANG SAJA KE JALANAN ATAU KEMANAPUN SUKA. KALAU DI SINGAPURA MEREKA SERING TERTANGKAP KARENA MEMBUANG SAMPAH SEMBARANGAN (LITTERING).







SUDAH ADA TULISAN DILARANG BUANG SAMPAH, MASIH SAJA BUANG SAMPAH, BANYAK MALINGSIAL YANG MASIH BUTA HURUF, TIDAK BERPENDIDIKAN.



JADI OBYEK WISATA FOTOGRAFI UNTUK DISEBARKAN KE NEGARA ASAL TURIS TERSEBUT



BANJIR ADALAH BUKTI BAHWA ORANG MALINGSIAL MEMBUANG SAMPAH SEMBARANGAN. BUKTI BANGSA PRIMITIF.


Demikianlah pemirsa, beberapa bukti kecil betapa mengenaskannya Malingsial dibalik topeng kearoganannya ketika bertemu muka dengan kita, bangsa Indonesia.
Sampai jumpa di edisi mendatang,...tentang

KEJAYAAN BANGSA INDONESIA DENGAN KEKUATAN VISI JAUH KE DEPAN.
DENGAN BERITA DAN INFORMASI INI KITA SUKSESKAN KEJAYAAN INDONESIA RAYA DAN KEBANGKRUTAN MALINGSIAL.
HIDUP BRUNEI DARUSSALAM!!!

Saturday, July 4, 2009

BENCANA REKABENTUK MALINGSIAL

GEDUNG PASAR JAYA YANG RUNTUH SEHINGGA TIDAK BERJAYA.




AKIBAT KEDANGKALAN ILMU PARA ARSITEK MALINGSIAL, BANGUNAN-BANGUNAN DISANA RUNTUH. STADION YANG BARU SETAHUN DIGUNAKAN HANCUR BERANTAKAN.
INI AKIBAT VISI 20/20 MALINGSIAL YANG TIDAK TERENCANA DENGAN BAIK. MAKSUD HATI SETARAF NEGARA MAJU, APA DAYA OTAK BELUM MAMPU.




UNTUNG SAJA INDONESIA BELUM PERNAH MENDAPATKAN PEMENANG TENDER REKABENTUK DARI MALINGSIAL YANG DIPAKAI DALAM MEMBANGUN GEDUNG DISINI, KALAU SEMPAT ADA ARSITEK MALINGSIAL YANG MENANG TENDER, TENTU SAJA INI MENJADI HAL MEMALUKAN BAGI BANGSA INDONESIA, KOK MAU-MAUNYA MEMAKAI REKABENTUK ANEH DAN IDIOT DARI MALINGSIAL.
TAPI SYUKUR SAJA TIDAK PERNAH SATUPUN DAN UNTUK SELAMANYA.

Wednesday, July 1, 2009

BAHASA KAMI BAHASA INDONESIA BUKAN BAHASA MELAYU

HAI PARA MALINGSIERS YANG ADA DI MALINGSIA, APA HENDAK KAU BANGGAKAN DARI BAHASAMU YANG KAU BILANG SALAH SATU BAHASA BESAR DI DUNIA?

KAMI 200 JUTA ORANG INDONESIA BERBAHASA INDONESIA BUKAN MELAYU!!!
BAHASA MELAYU MU HANYA SEDIKIT PENUTURNYA, YAKNI DI NEGARA MU SAJA GAK LEBIH DARI 30 JUTA!!!

Ini semua dari www.kompas.com dan berbagai sumber:

Bahasa Indonesia Jadi Bahasa Kedua di Ho Chi Minh City

JUMAT, 12 JUNI 2009 | 23:52 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com--Pemerintah Daerah Ho Chi Minh City, Vietnam, mengumumkan Bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua secara resmi pada bulan Desember 2007, kata seorang diplomat Indonesia.

"Bahasa Indonesia sejajar dengan Bahasa Inggris, Prancis dan Jepang sebagai bahasa kedua yang diprioritaskan," kata Konsul Jenderal RI di Ho Chi Minh City untuk periode 2007-2008, Irdamis Ahmad di Jakarta pada Jumat.

Guna mengembangkan dan memperlancar studi Bahasa Indonesia, pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia di kota itu membantu berbagai sarana yang diperlukan beberapa universitas, kata Irdamis.

Sarana yang dibantu antara lain peralatan komputer, alat peraga, bantuan dosen dan bantuan keuangan bagi setiap kegiatan yang berkaitan dengan upaya promosi Bahasa Indonesia di wilayah kerja universitas masing-masing.

Perguruan tinggi itu juga mengadakan lomba pidato dalam Bahasa Indonesia, lomba esei tentang Indonesia dan pameran kebudayaan. Universitas Hong Bang, Universitas Nasional HCMC dan Universitas Sosial dan Humaniora membuka studi Bahasa Indonesia.

"Jumlah mahasiswa yang terdaftar sampai Nopember 2008 sebanyak 63 orang dan menurut universitas-universitas itu, minat untuk mempelajari Bahasa Indonesia cenderung meningkat," kata Irdamis.

Ia berpendapat sebagian pemuda Vietnam melihat adanya keperluan untuk mempelajari Bahasa Indonesia, mengingat kemungkinan meningkatnya hubungan bilateral kedua negara yang berpenduduk terbesar di ASEAN di masa depan.


Bahasa Indonesia, Pilihan Bahasa di Australia

RABU, 1 JULI 2009 | 09:39 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Ester Lince Napitupulu

KOTA MELBOURNE, KOMPAS.com - Bahasa Indonesia menjadi salah satu mata pelajaran bahasa yang ditawarkan di beberapa sekolah di Australia. Sejumlah siswa yang memilih pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah mereka bahkan tertarik juga belajar kebudayaan dan berkunjung ke Indonesia.

”Saya tertarik ingin tahu kebudayaan Indonesia. Suatu saat nanti saya berharap bisa ke Indonesia. Saya mau berenang di pantainya,” ujar Michael Winn, siswa kelas XII di Carey Baptist Grammar School Melbourne.

Keinginan untuk bisa mengajak siswa SMP-SMA di Ferny Grove State School di Brisbane, Queensland, belajar langsung dari penutur asli di Indonesia memang hingga saat ini belum terwujud. Namun, pengajar Bahasa Indonesia di sekolah itu tak kehilangan akal.

Tak bisa ke Indonesia, akhirnya sejumlah siswa yang memilih belajar bahasa Indonesia pun diajak ke Malaysia untuk belajar bahasa dan kebudayaan Melayu. Kesempatan itu dimanfaatkan sebagai ajang untuk mempraktikkan kemampuan berbahasa Indonesia yang dialeknya hampir mirip dengan bahasa Melayu yang dipercakapkan di Malaysia.

(BAHASA MALAYSIA YANG MELAYU-LAYU ITU CUMA SEBAGAI PERBANDINGAN SAJA WAH HA HA HA)

Travel Advice

Dalam kunjungan ke sejumlah sekolah di Melbourne dan Brisbane yang didukung oleh Australian Education International (AEI) di Indonesia awal Juni lalu, Kompas berkesempatan melihat proses belajar Bahasa Indonesia bagi siswa SD, SMP, dan SMA Australia. Pilihan pelajaran Bahasa Indonesia ternyata cukup diminati siswa Australia, di samping bahasa Perancis, Jerman, dan Mandarin.

Fiona Hudghton, Kepala Departemen Bahasa di Ferny Grove State School, mengatakan, Bahasa Indonesia sudah diajarkan di sekolah itu sekitar delapan tahun lalu. Pelajaran bahasa dengan pilihan Bahasa Indonesia dan Jerman wajib diikuti siswa kelas VIII. Sekitar 40 persen siswa memilih untuk belajar Bahasa Indonesia.

”Sejak tahun lalu, Bahasa Indonesia mulai diajarkan sejak SD. Itu karena ada permintaan dari orangtua siswa. Alasannya karena Indonesia negara tetangga Australia, tidak ada salahnya untuk mengajarkan bahasanya kepada siswa di sini,” ujar Fiona, yang juga menjadi salah satu pengajar Bahasa Indonesia.

Belajar Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah Australia justru terlihat lebih menarik. Saat siswa kelas VIII belajar kata depan atau preposisi, Fiona memanfaatkan berbagai hewan mainan berukuran kecil sebagai alat bantu untuk memudahkan pemahaman siswa.

Dengan memindahkan posisi berbagai hewan mainan itu, siswa jadi lebih paham bagaimana menggunakan kata di belakang, di atas, di samping, dan lainnya.

Sementara itu, bagi siswa kelas XI dan XII, pelajaran Bahasa Indonesia juga dikaitkan dengan berbagai aspek kehidupan di negara Indonesia, mulai dari budaya, sastra, musik, dan film. Ketika Kompas, tvOne, dan staf AEI Surabaya Josephine Ratna melihat jam pelajaran Bahasa Indonesia, siswa kelas XI dan XII memanfaatkan untuk berdiskusi soal kehidupan remaja di Indonesia.

Axel, misalnya, dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar menanyakan apakah remaja Indonesia kenal dengan budaya pesta bersama teman-teman sekolah. Sementara itu, yang lainnya bertanya soal kesempatan anak-anak lulusan SMA melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Di Melbourne, kelas Bahasa Indonesia salah satunya ditawarkan di Carey Baptist Grammar School sejak kelas VII. Bahasa Indonesia juga menjadi pilihan di antara Bahasa Mandarin, Jerman, dan Perancis. Siswa kelas XII yang mengambil kelas Bahasa Indonesia mesti siap-siap dengan ujian Bahasa Indonesia untuk kelas Victorian Certificate of Education (VCE) atau International Baccalaureate.

Heather Hardie, pengajar Bahasa Indonesia, berharap supaya travel advice ke Indonesia bisa dipertimbangkan kembali.

”Saya menikmati saat di Indonesia. Saya berharap anak-anak yang mengambil kelas bahasa bisa ke Indonesia. Sebenarnya, Indonesia tidak seseram yang dibayangkan orang,” ujar Heather.

(Betul pak, disini aman-aman saja tidak seperti di Malingsia yang orangnya suka menyiksa manusia)

Tuesday, June 30, 2009

MALAYSIA TODAY IS NOTHING WITHOUT INDONESIAN KINGDOMS

DARIMANA ASAL NAMA MALAYSIA DAN MELAYU?
Semua itu dari Indonesia...wahai para Maling!!!
Nama kamu itu bukan Malaysia tapi lebih cocok dengan sebutan MALINGSIA, Ayo ganti namamu jadi MALINGSIA karena MELAYU dan MALAYSIA adalah nama untuk dan berasal dari INDONESIA!!!

Buktinya nih dari Wikipedia.com:

The name "Malaysia" was adopted in 1963 when the Federation of Malaya, Singapore, North Borneo and Sarawak formed a 14-state federation.[11] However the name itself had been vaguely used to refer to areas in Southeast Asia prior to that. A map published in 1914 in Chicago has the word Malaysia printed on it referring to certain territories within the Malay Archipelago.[27][28] Other names were contemplated for the 1963 federation. Among them was Langkasuka (Langkasuka was an old kingdom located at the upper section of the Malay Peninsula in the first millennium of the common era).[29]
Even further back into history, the English ethnologist George Samuel Windsor Earl in volume IV of Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia in 1850 proposed to name The Islands of Indonesian as Melayunesia or Indunesia though he favored the former.[30]

KAMU ITU DULU BAGIAN DAN JAJAHAN DARI KERAJAAN-KERAJAAN INDONESIA!!!


Early history

Ptolemy showed the Malay Peninsula on his early map with a label that translates as "Golden Chersonese", the Straits of Malacca were referred to as "Sinus Sabaricus".[32] From the mid to the late first millennium, much of the Peninsula as well as the Malay Archipelago were under the influence of Srivijaya.


A Famosa in Malacca. It was built by the Portuguese in the 15th century.
There were numerous Chinese and Indian kingdoms in the 2nd and 3rd centuries CE—as many as 30 according to Chinese sources. Kedah—known as Kedaram, Cheh-Cha (according to I-Ching) or Kataha, in ancient Pallava or Sanskrit—was in the direct route of invasions of Indian traders and kings. Rajendra Chola, Tamil Emperor who is now thought to have laid Kota Gelanggi to waste, put Kedah to heel in 1025 but his successor, Vira Rajendra Chola, had to put down a Kedah rebellion to overthrow the invaders. The coming of the Chola reduced the majesty of Srivijaya, which had exerted influence over Kedah and Pattani and even as far as Ligor.

The Buddhist kingdom of Ligor took control of Kedah shortly after, and its King Chandrabhanu used it as a base to attack Sri Lanka in the 11th century, an event noted in a stone inscription in Nagapattinum in Tamil Nadu and in the Sri Lankan chronicles, Mahavamsa. During the first millennium, the people of the Malay Peninsula adopted Hinduism and Buddhism and the use of the Sanskrit language until they eventually converted to Islam.

There are reports of other areas older than Kedah—the ancient kingdom of Gangga Negara, around Beruas in Perak, for instance, pushes Malaysian history even further into antiquity. If that is not enough, a Tamil poem, Pattinapillai, of the second century CE, describes goods from Kadaram heaped in the broad streets of the Chola capital. A 7th century Sanskrit drama, Kaumudhimahotsva, refers to Kedah as Kataha-nagari. The Agnipurana also mentions a territory known as Anda-Kataha with one of its boundaries delineated by a peak, which scholars believe is Gunung Jerai. Stories from the Katasaritasagaram describe the elegance of life in Kataha.


Sultan Abdul Samad Building in Kuala Lumpur houses the High Court of Malaya and the Trade Court. Kuala Lumpur was the capital of the Federated Malay States and is the current Malaysian capital.
Between the 7th and the 13th century, much of Peninsular Malaysia was under the Srivijaya empire which centred itself in Palembang on the island of Sumatra. Following that, a wider Majapahit empire which was based on Java island, had influence over most of Indonesia, Peninsular Malaysia and the coasts of Borneo island.

In the early-15th century, the Malacca Sultanate was established under a dynasty founded by Parameswara , a prince from Palembang from the once Srivijayan empire. Conquest forced him and many others to flee Palembang. Parameswara in particular sailed to Temasek to escape persecution and came under the protection of Temagi, a Malay chief from Patani who was appointed by the King of Siam as Regent of Temasek. Within a few days, Parameswara killed Temagi and appointed himself as regent. Some 5 years later he had to leave Temasek due to threats from Siam. During this period, Temasek was also attacked by a Javanese fleet from Majapahit.

He later headed north to found a new settlement. At Muar, Parameswara contemplated establishing his new kingdom at either Biawak Busuk or at Kota Buruk. Finding that the Muar location was not suitable, he continued his journey northwards. Along the way, he reportedly visited Sening Ujong (former name of present day Sungai Ujong) before reaching a fishing village at the mouth of the Bertam River (former name of the Malacca River). This evolved over time to become the location of modern day Malacca Town. According to the Malay Annals, it was here that he witnessed a mouse deer outwitting a dog while resting under a Malacca tree. He took what he saw as a good omen and decided to establish a kingdom called Malacca, building and improving facilities for the purpose of trade.

Parameswara's conversion to Islam was unclear so far with no evidence as to whether Parameswara had actually converted. According to a theory by Sabri Zain,[33] Parameswara became a Muslim when he married a Princess of Pasai and he took the fashionable Persian title "Shah", calling himself Iskandar Shah. There are also references that indicate that some members of the ruling class and the merchant community residing in Malacca were already Muslims. The Chinese chronicles mention that in 1414, the son of the first ruler of Malacca visited Ming to inform them that his father had died. Parameswara's son was then officially recognised as the second ruler of Malacca by the Chinese Emperor and styled Raja Sri Rama Vikrama, Raja of Parameswara of Temasik and Melaka and he was known to his Muslim subjects as Sultan Sri Iskandar Zulkarnain Shah or Megat Iskandar Shah, and he ruled Malacca from 1414 to 1424.[34][35]

In 1511, Malacca was conquered by Portugal, which established a colony there. The sons of the last Sultan of Malacca established two sultanates elsewhere in the peninsula — the Sultanate of Perak to the north, and the Sultanate of Johor (originally a continuation of the old Malacca sultanate) to the south. After the fall of Malacca, three nations struggled for the control of Malacca Strait: the Portuguese (in Malacca), the Sultanate of Johor, and the Sultanate of Aceh. This conflict went on until 1641, when the Dutch (allied to the Sultanate of Johor) gained control of Malacca.

(Kesultanan Johor berkhianat dan bersekutu dengan Belanda, artinya Malingsia memang dari dulu penghianat dan MALING)

Friday, June 26, 2009

Poor Malaysian Indian Under Eternal Repression

KALAU NEGERI ANDA MISKIN, AKUI SAJA, BANYAK YANG MASIH BUANG TINJA DI GUBUK PINGGIR KALI!!!!

After more than 5 decades, majority of Malaysian Indian never experienced real meaning of the independence. Poverty, illiteracy, unemployment, religious oppressions, policy discriminations are nothing new for them. Well, let me tell you the truth that Malaysian Indian was more comfortable and independent under the colonial of British. UMNO colonial are very much discriminating malaysian Indian. The reason why I mentioned UMNO as colonial is they are always championing the “ketuanan Melayu” policy in Malaysia. So If Malays are “Tuan”, can you tell me who that “Kuli” is?

Double standard policy such as “New Economic Policies” which bias towards certain races is not logical and relevent for future Malaysia. Bumiputra and Bukan Bumiputra verse are the simplest example that the Malaysian Indians are under discrimination. This is the Malaysia state of denial in reality, the government is arrogant, refuse to listen Minority’s plight.

During the British colonial, Malaysian Indian was brought as labours in rubber plantations. The ethnic was given houses, schools, fields, temples, and all the basic facilities. But what’s happening now? The plantation estates are being removed, they are abandoned and some of them jobless and homeless. The conversion of rubber plantations to housing estates and golf courses has displaced plantation workers who have drifted to urban centers. As a result, urban Indian ghettos have emerged and crime escalated.

Let me prove you how Malaysian Indian are abandoned by UMNO colonial, Malaysian Indians feature highest in all of the negative statistics.
The second highest infant mortality rates
The lowest life expectancy rates- 67.3 years compared to national average of 71.2
The highest school dropout rates best seen in the data that only 5.0 percent of Indians reach the tertiary level compared to the national average of 7.5 percent. [And to top it all, just recently we have openly declared to the world that our students cannot make the cut under the newly introduced system of meritocracy for tertiary intake
The highest incidence of alcoholism, that cuts across all classes. Alcohol it seems is the greatest leveler of class distinctions
The highest incidence of drug addiction in proportion to population. - The highest number of prisoners in proportion to population
And we are told that the largest number of gangs is now Indian gang and that 60 percent of serious crimes are committed by Indians
14 percent of juvenile delinquents, 20 percent of (Malaysia's) wife and child (abusers) and 14 percent of its beggars. They (also comprised) less than 5 percent of successful university applicants
Indians have the lowest share of the nation's corporate wealth: 1.5%, compared to 19.4% for the Malays and 38.5% for the Chinese.
Until now, there are no proper action taken to solve this social problem. So who should we blame?

An Indian Malaysian can find it difficult to become a doctor or lawyer in Malaysia. Local university seats and scholarships are all awarded under a racial quota system. Even after getting a degree, many say that discrimination is commonplace. Indian doctors, for instance, complain that they are often excluded from lists of approved doctors whom civil servants or company employees can patronise. This might not happens if we are still under control of the British.

The Malaysian authorities’ even refuse to provide the birth certificate and Identification certificated (IC) even though the ethnic Indian already here for fourth generations. These once again deny them to enter schools to receive education and hospitals to receive proper medical treatment. Don’t you feel pity of them? There are thousand s of Malaysian Indian still no document to prove that they are the Malaysian citizen. Hey! What’s going on men? They are human! They are Malaysian! Why don’t you recognise them as rightful citizen?

Some Malaysian Indians forced to convert to Islam, denying their rights of religious freedom. These kind of cases reported always in Malaysian media. In fact, British colonials did not force them to convert into Christian in fact. Most of the temples in plantation estates were build before 1957, but most of the temples demolished after the 1957. The something happens to Tamil schools in Malaysia, before independence there are exactly 888 Tamil schools with only 55 766 pupils in our nation, but now? 523 schools around with more than 110 000 pupils receiving primary education in terrible conditions, some of them studying under tree, shop lot, open air class rooms and even sit on the ground. This is 2009! Please!

My father always tell me that when Malaysian Indians were in plantation estates, they where lived very happy life. With the daily earning as low as RM3 they enjoyed a peaceful life. The men would "lepak" in the toddy shop after the whole day tired of working. They kids and teenagers play football in the field after school while women cook and clean the house. They no need to pay any bills, no rent for houses, no fees for schools, free for medical. Even the estate authorities will put Tamil cinema movies with big screens in estates at least once a month. Once in a year, the estate authority will provide them school uniforms.

There are successful professionals such as lawyers and doctors produced from estates. Usually, after finish standard 6 in primary school, they go secondary English schools, which it was normally in town. Students with good results able to continue their education to secondary schools, estates authority provide bus for them to town to receive education in secondary schools. Then if family was affordable, they will send their children to overseas to further education.

Although Malaysian Indian was economic slaves of the British, British colonial did not abuse them by ignoring the basic needs. Education opportunities, job opportunities, freedom of religious and I confident that they would have delivered much compare to today's UMNO. I can feel they pain of minority Malaysian Indian while writing this, and I hope my messages will reach the concern citizens and social activists. Save poor Malaysian Indian from permanently colonised!

Saturday, June 20, 2009

MALAYSIA YANG MISKIN DI SABAH DAN SARAWAK

KUCHING 19 Jun - Kempen Menurunkan Harga Barang yang dilancarkan oleh Kementerian Perdagangan Dalam Negeri, Koperasi (KPDNKK) dan Kepenggunaan ternyata bukanlah satu retorik yang disampaikan kerajaan semata-mata untuk menarik perhatian rakyat sejagat.

Ia mempunyai seribu satu pengisian yang membawa banyak 'erti' kepada rakyat yang kurang berkemampuan ataupun berpendapatan rendah.

Sejak pelancarannya, ramai yang menghela nafas lega kerana mereka sudah boleh merancang perbelanjaan harian dengan baik dan membeli barang yang lebih banyak dengan pengeluaran wang yang 'biasa'.

Baru-baru ini, Utusan Malaysia sempat membuat tinjauan di salah sebuah pasar raya yang menyertai kempen tersebut iaitu Choice Super Mall (CSM) dan menemubual beberapa pengguna berkaitan kempen tersebut.

Rata-rata pengguna yang ditemui memberikan maklum balas positif dan berterima kasih kepada kerajaan kerana prihatin akan kepayahan rakyat yang kurang berkemampuan.

Bagi Mohd. Shamsuddin Mokhtar, 70, rakyat seharusnya berterima kasih dan memberikan pujian kepada kerajaan atas usaha mereka membantu rakyat dalam menurunkan harga barang.

''Ramai di kalangan rakyat yang tidak bersyukur dengan komitmen kerajaan membantu mereka.

''Di sini, sudah jelas kempen penurunan harga ini tidak hanya membantu pihak pengguna malah peniaga juga merasai keuntungannya," katanya di sini baru-baru ini.

Bagaimanapun, katanya, masih ada peniaga yang berdegil dengan menaikkan harga barangan dan seakan tidak ambil peduli akan seruan kerajaan.

Seorang kakitangan kerajaan, Sazali Mawi, 52, pula berpendapat Kempen Penurunan Harga tersebut sepatutnya tidak hanya dilakukan dalam tempoh-tempoh tertentu tetapi patut diadakan selalu terutamanya pada musim perayaan.

''Kempen ini bagus kerana ia banyak membantu keluarga miskin untuk berbelanja dengan lebih bijak, tapi lebih baik sekiranya kempen ini diadakan selalu bagi kepentingan bersama," ujarnya.

Katanya, peniaga-peniaga runcit juga patut mengambil peluang mengikuti kempen tersebut kerana ia sedikit pun tidak akan mendatangkan kerugian terhadap perniagaan mereka.

Fatimah Sulaiman, 62, juga bersetuju dan menyokong kempen yang dianjurkan oleh KPDNKK itu.

''Walaupun kempen ini difokuskan untuk rakyat yang kurang mampu, golongan yang berkememampuan pula tidak patut mengambil kesempatan ini untuk berbelanja seboros-borosnya sehingga boleh mendatangkan inflasi," ujar nenek kepada dua orang cucu itu.

Jelasnya, kempen tersebut patut diperluaskan ke kawasan luar bandar kerana di sanalah terdapat ramai penduduk yang berpendapatan rendah dan kurang berkemampuan untuk berbelanja.

Hurriah Tani, 41, merupakan salah satu pengguna yang menyambut baik usaha kementerian menganjurkan kempen tersebut.

''Kempen ini sangat bagus dan saya sebagai pengguna sememangnya menanti-nantikan kempen sebegini.

''Bukan sahaja kita sebagai pembeli dapat berbelanja dengan bijak, malah secara tidak langsung dapat memberikan kemudahan kepada golongan yang berpendapatan rendah untuk membeli barangan yang lebih banyak dengan jumlah wang yang minimum," katanya.

Namun, suri rumah tangga daripada Taman Surabaya Indah itu agak tidak berpuas hati dengan tindakan pekedai-pekedai bumiputera yang meletakkan harga tinggi pada barangan di kedai mereka.

"Bagaimana kedai Melayu nak maju, sedangkan mereka sendiri 'membunuh' pengguna Melayu," katanya.